Truk terakhir yang mengangkut tenda sudah meninggalkan pelataran butik Prita. Erlan mengawasinya sampai menghilang ditelan arus lalu lintas sebelum masuk kembali ke butik. Keriuhan pembukaan tadi sudah tak tersisa. Tim Uchy dan pegawai Prita sudah membereskannya. Kecuali Prita, Orlin, dan dirinya sendiri, semua orang sudah pulang. Orangtua Prita juga hanya tinggal sebentar setelah acara berakhir karena harus bersiap untuk undangan lain yang harus  mereka hadiri.

Kerja keras Prita menyiapkan pembukaan butiknya berakhir sukses. Wartawan yang datang meliput lebih banyak daripada yang mereka undang. Nama Johny Salim memang bisa mendatangkan nyamuk pers dengan mudah. Meskipun tidak terlalu suka mengakuinya, Erlan tahu bahwa hal lain yang menarik perhatian wartawan pada butik ini adalah kasus pembunuhan aktor yang menyeret nama Prita tahun lalu. Tadi saja, pertanyaan mengenai kasus itu tetap diajukan wartawan. Untunglah Prita bisa mengatasinya dengan santai.

Beberapa bulan terakhir, Erlan banyak menghabiskan waktu bersama Prita untuk mempersiapkan butik ini. Dan dia bisa melihat jika Prita memang bersungguh-sungguh menginginkan usaha ini. Perempuan itu bekerja keras melakukan banyak hal. Melakukan wawancara dan mengawasi training pegawainya sendiri, menyiapkan banyak koleksi untuk dipamerkan saat pembukaan, dan berbagai hal lain. Para penjahitnya bekerja di rumah Prita sambil menunggu butik siap.

Mungkin karena kesibukan itu, akhir-akhir ini Prita tidak lagi sibuk mengusiknya dengan tingkah dan kalimat-kalimat konyol. Meskipun belum benar-benar akrab layaknya teman baik, hubungan mereka jauh lebih baik sekarang.

“Pak Erlan mau makan?” tawar Orlin ketika Erlan naik ke lantai tiga. “Pegawai Mbak Uchy naruh banyak makanan di kulkas. Kalau mau, biar saya panaskan lasagna untuk Bapak. Nggak repot, cuman masuk microwave sebentar saja.”

“Tidak usah.” Erlan duduk di sofa, menghadap televisi superbesar. Saluran Fashion TV menayangkan banyak peragawati yang sedang berlenggang-lenggok di atas catwalk. Erlan meraih remote dan mengganti siaran itu. Dia tidak mengerti apa pun soal pakaian perempuan dan acara itu tidak menarik minatnya.

“Pak, boleh minta tolong?” Orlin sudah berdiri di dekat sofa tempat Erlan duduk. Ekspresinya tampak tidak yakin.

“Ada apa?” Erlan menjawab tanpa melihat asisten Prita itu.

Orlin mengibas. “Nggak jadi saja deh. Ntar saya malah diomelin Mbak Prita.”

Erlan tidak memaksa. Dia memilih fokus pada saluran CNBC yang sekarang sedang menayangkan wawancara dengan seorang petinggi IMF.

“Pak…,” suara Orlin yang ragu-ragu terdengar lagi.

Erlan mengangkat kepala tidak sabar. “Kalau kamu mau bilang, sebaiknya bilang sekarang, kalau tidak, nggak usah bicara.”

Orlin meringis. “Teman saya ulang tahun, Pak. Dia mengundang saya. Seharusnya saya bisa ke sana setelah mengantar Mbak Prita pulang, tapi katanya Mbak Prita mau nginap di sini malam ini.” Nada Orlin terdengar memelas. “Pak Erlan bisa tinggal di sini menemani Mbak Prita sampai saya balik, kan? Nggak lama kok, Pak. Saya usahakan pulang sebelum tengah malam.”

“Sebelum tengah malam,” tegas Erlan.

“Terima kasih, Pak!” Tidak disuruh dua kali, Orlin langsung melesat. “Tolong izinkan sama Mbak Prita, ya. Biar saya diomelinnya besok pagi saja.”

Erlan tidak menanggapi. Dia melanjutkan menonton wawancara di televisi. Tidak masalah tinggal di sini lebih lama. Dia toh tidak mengerjakan apa pun di apartemennya. Bu Yura pernah mengatakan pada Erlan bahwa salah satu kamar di lantai tiga ini boleh dia tempati, tetapi Erlan tidak berniat mengikuti perintah itu. Dia mengerti maksud Bu Yura yang masih mengharapkan hubungannya dengan Prita kembali seperti dulu. Harapan yang terlalu muluk, karena Erlan tahu itu tidak akan terjadi. Hubungannya dengan Prita memang membaik, tetapi jelas tidak akan mengarah ke hubungan asmara. Laki-laki seperti dirinya jelas bukan tipe Prita, dan dia juga tidak akan jatuh cinta kepada perempuan itu. Atau perempuan mana pun.

“Orlin mana?” Suara Prita membuat Erlan mendongak. Perempuan itu muncul dari kamarnya. Dia kelihatan segar. Rambutnya belum sepenuhnya kering. Wajahnya bebas dari riasan.  Dia memakai kaus gombrang yang panjangnya hampir selutut.

Erlan berusaha tidak melihat tungkai itu saat Prita ikut duduk di sofa. “Keluar.” Biasanya dia tidak tertarik mengamati tungkai perempuan, tetapi memang tidak setiap hari ada perempuan beraroma sabun dan sampo yang segar duduk di dekatnya seperti ini. Prita sepertinya tidak menyangka akan menemukan dia di situ, karena baru kali ini Erlan melihat perempuan itu memakai kaus seperti yang sedang dikenakannya sekarang. Biasanya dia rapi dengan gaun, atau setelan blus dan celana panjang, meskipun di dalam rumahnya sekali pun. Ini mungkin jenis pakaian yang digunakan Prita untuk tidur.

“Kamu boleh pulang sekarang. Makasih ya sudah bantuin sampai acaranya sukses kayak tadi.”

“Orlin bilang kalian mau nginap di sini?” Erlan mengabaikan kata-kata Prita.

“Iya, capek kalau harus pulang ke rumah dan balik ke sini lagi pagi-pagi. Barang-barangku juga sudah lengkap di kamar. Aku punya semua yang aku butuhkan untuk sesekali nginap di sini.”

“Kalau capek, kamu tidur saja.” Erlan terus mengawasi layar televisi. “Aku akan pulang kalau Orlin sudah datang.”

“Sebentar lagi,” jawab Prita sambil mengacak-acak rambutnya sendiri. “Adrenalinku rasanya belum beneran turun.”

“Ponsel kamu mana?” Erlan mengulurkan tangan, meminta, tanpa mengalihkan pandangan.

“Untuk apa?” Tetapi Prita tetap mengulurkan ponsel yang dibawanya dari dalam kamar.

“Aku akan memasukkan aplikasi supaya kamu bisa memonitor CCTV yang sudah dipasang di luar dan dalam gedung, jadi kamu bisa lihat dari ponsel kalau mendengar suara yang mencurigakan.”

Prita berdecak. “Nggak akan ada apa-apa. Kamu saja yang parnoan.”

Erlan tidak menjawab. Dia sibuk mengutak-atik ponsel Prita. “Adminnya aku. Jadi kalau ada apa-apa, kamu bisa hubungi aku, biar aku bisa ikut lihat di ponselku.”

Prita langsung cemberut. “Itu pelanggaran hak asasi. Itu sama saja dengan memata-matai. Kamu akan tahu kapan aku keluar dari gedung ini!”

“Memang itu tujuannya.” Kepala Erlan tidak terangkat sedikit pun.

“Pernah dengar kata privasi? Ada lho di KBBI kalau kamu belum tahu. Apa nggak cukup dengar laporan dari Orlin saja?”

“Orlin bisa kamu akali, CCTV tidak.”

“Apa ada yang bisa kamu lewatkan?” gerutu Prita. “Kepala kamu itu isinya otak semua atau beneran chip yang ditanam?”

“Sudah.” Erlan mengembalikan ponsel Prita. “Buka SPC PRO Cloud kalau mau lihat keadaan di dalam atau luar gedung.”

“Padahal di televisi saja sebenarnya sudah cukup lho.” Prita masih belum menerima pelanggaran privasi seperti itu. Tidak terlalu menyenangkan saat mengetahui  Erlan bisa memantaunya dari mana saja melalui ponselnya. “Lagian, di depan juga ada satpam. Ini beneran berlebihan.”

“Aku menyuruh orang yang memasang CCTV supaya memakai memori yang besar, jadi waktu rekamnya lebih lama. Jadi kalau ada apa-apa, kita bisa melihat rekaman sampai beberapa bulan ke belakang.”

Prita langsung mengawasi ruangan di sekelilingnya. “Di lantai ini nggak ada CCTV, kan?” Dia tidak mau dipelototi satpam atau Erlan kalau pakaian yang dikenakannya tidak sopan. Erlan mungkin tidak tertarik, tetapi satpam yang baru direkrut itu bisa saja iseng dan mengambil gambarnya melalui CCTV. Pasti ada saja tabloid yang mau membayar untuk melihat Prita Salim dalam pakaian minim.

“Nggak ada.” Erlan sudah memikirkan kemungkinan Prita punya teman laki-laki, jadi dia memang sengaja membuat ruangan di lantai 3 yang pribadi bebas dari kamera. Dia juga tidak tertarik untuk melihat adegan Prita bermesraan dengan seseorang melalui ponselnya. Dia tidak secabul itu. “Jadi kamu tahu di mana tempatnya kalau harus melakukan sesuatu yang sifatnya sangat pribadi.”

Prita yang mengerti arti kalimat Erlan langsung memutar bola mata. “Terima kasih sudah memikirkan kenyamananku,” katanya sarkartis. “Tapi aku harus menemukan seseorang dulu untuk menemaniku melakukan sesuatu yang sifatnya sangat pribadi. Setelah dia berhasil melewati satpam, masih ada kamu yang mengintai di ponsel dan bisa saja memberitahu Mama sehingga dia akan menyuruh Orlin melekat seperti tokek di sini, jadi aku nggak akan punya kesempatan untuk melakukan apa pun yang sifatnya sangat pribadi.” Prita mengangkat kedua kakinya di atas sofa sehinga dia bisa berbalik sepenuhnya menghadap Erlan. “Karena kita sudah bicara tentang ini, kurasa aku harus minta tolong lagi sama kamu.”

Erlan berusaha terus menatap wajah Prita, dan tidak menurunkan pandangan ke bagian tungkai, karena sempat melihat kaus perempuan itu naik ke paha saat dia duduk bersila di atas sofa. “Soal apa?”

“Harapan Papa dan Mama tentang kita.” Prita mengembuskan napas sebal. “Aku sudah bilang pada Mama kalau kita nggak akan bisa sama-sama seperti dulu lagi. Kita dulu bersama karena dijodohkan, dan kita nggak akan kembali ke sana. Mungkin kalau kamu yang bilang ke Mama, dia akan lebih mengerti. Dia bisa memaksaku, tapi nggak akan berkeras sama  kamu.”

“Mungkin sudah saatnya kamu memperkenalkan seseorang kepada Pak Johny dan Bu Yura.” Itu kedengarannya cara paling masuk akal, meskipun entah mengapa Erlan tidak terlalu menyukai ide yang dia ucapkan sendiri itu. Padahal itu adalah pemecahan masalah yang sempurna. Dia akan terbebas dari tugas mengawasi Prita kalau perempuan itu sudah menemukan kekasih. Johny dan Yura Salim akan mengerti kalau dia dan Prita tidak akan pernah bersama, meskipun mereka mengharapkannya.

Prita menggeleng. “Fokusku sekarang ke butik. Aku nggak punya waktu untuk urusan lain, apalagi untuk mencari kekasih. Lagi pula, orang yang tepat itu akan ketemu juga tanpa harus dicari.”

Erlan berdiri dan berjalan menuju pantri. Dia tidak suka duduk di depan Prita dengan pose seperti itu. Dari dalam kulkas, dia mengeluarkan sebotol air mineral. “Kamu mau minum?” tawarnya.

“Ini tempatku. Kamu tamu di sini.” Prita sudah mengganti siaran televisi. “Jangan terlalu nyaman. Kamu beneran bisa pulang sebelum Orlin balik. Ada satpam di dekat pintu gerbang.”

“Kamu masuk kamar dan tidur saja.” Erlan membawa botol airnya mendekati tangga alih-alih lift.. “Aku akan lihat-lihat di bawah.” Lebih baik begitu. Dia pernah kehilangan kendali saat berada terlalu dekat dengan Prita. Dia tidak akan mengulanginya sekarang. Tolol sekali kalau sampai terjadi, karena dia tidak punya penjelasan masuk akal untuk kejadian seperti itu.