Saya nggak ingat persis kapan mulai suka membaca dan tertarik pada buku, tetapi sepertinya hobi itu sudah dimulai sejak saya bisa mengeja. Saya akan membaca buku apa saja yang saya ada di dekat saya. Saya bahkan memungut potongan koran yang saya temukan dalam perjalanan menuju atau pulang dari sekolah. Hobi itu ditunjang oleh pekerjaan Bapak sebagai Kepala Sekolah Dasar. Saat Dinas Pendidikan dan Kebudayaan memberikan buku-buku cerita anak untuk perpustakaan sekolah, saya terlebih dahulu membaca semua buku-buku itu sebelum Bapak membawanya ke sekolah.

Saat kelas 4 SD, saya mendapat teman sekelas baru yang hobinya sama dengan saya. Dan ayahnya mengoleksi komik berseri. Komik tentang pendekar-pendekar. Satu judul bisa mencapai 30-40 seri. Saya tahu kalau itu sebenarnya bukan komik untuk anak-anak, tetapi tetap saya lalap juga, meskipun harus membacanya sambil sembunyi-sembunyi dari Bapak. Hehehe…. Melalui teman itu juga,  saya mulai berkenalan dengan Khoo Ping Hoo. Ya, saya membaca KPH sejak kelas 4 SD. Saya juga mulai rajin mengunjungi Perpustakaan Daerah untuk mencari bacaan yang tidak  bisa saya dapatkan dari perpustakaan sekolah. Di situ saya bertemu dengan Lima Sekawan dan Trio Detektif.

Petugas perpustakaan itu sampai hafal sama saya. Saat liburan puasa, saya akan datang ke perpustakaan sebelum tempat itu buka, dan pulang saat petugasnya menyuruh saya pulang karena kantornya harus ditutup. Dia kemudian membolehkan saya meminjam 2 buku setiap hari.

Menginjak bangku SMP, saya lagi-lagi bertemu dengan teman yang suka membaca, dan karena dia berasal dari keluarga berada, dia diizinkan membeli apa pun yang dia inginkan, termasuk buku. Waktu itu belum ada toko buku memadai di Baubau, tempat tinggal saya, jadi biasanya dia dikirimkan bacaan dari Makassar. Rumah teman itu laksana surga untuk saya, dan di situlah saya menghabiskan banyak waktu selain di sekolah. Lewat dia, saya mulai berkenalan dengan Agatha Cristie, Karl May, Sidney Sheldon, John Grisham, dll. Juga beberapa penulis lokal seperti Marga T, Mira W, dan Maria A. Sardjono.

Kecintaan saya pada buku, membuat saya pun kemudian belajar menulis. Sepertinya menyenangkan bisa memindahkan imajinasi sendiri dalam untaian huruf yang membentuk kata dan kalimat. Cerpen pertama saya dimuat di majalah remaja nasional saat SMA, dan beberapa lagi setelah saya kuliah. Sayangnya, majalah bukti terbit tulisan itu tidak ada satu pun yang tertinggal karena terus berpindah tangan saat dipinjam teman-teman.

Waktu kuliah, uang kiriman modal hidup dari orangtua lebih banyak saya belikan novel daripada untuk beli pakaian. Tumpukan buku-buku saya di kamar kos menggunung. Sayangnya lagi, hampir semua buku-buku itu lenyap tanpa jejak karena teman-teman yang meminjamnya nggak bertanggung jawab.

Setelah selesai kuliah dan lulus menjadi PNS, saya ditempatkan di daerah yang sangat terpencil. Tempat itu nggak punya listrik, air tawar, dan jauh dari mana pun. Saya kehilangan kontak dengan buku-buku baru. Saya hanya membaca ulang dan ulang buku-buku yang saya bawa ke sana. Apalagi setelah itu saya kemudian menikah dan punya anak. Perhatian saya benar-benar teralihkan.

Saat anak-anak mulai beranjak besar, dan kami kemudian pindah ke kota, saya mulai berkenalan dengan online shopping. Olshop benar-benar membantu mengingatkan kecintaan saya terhadap buku. Tahun 2013, saya mulai menimbun buku lagi. Setelah setahun menjadi pembaca, keinginan menulis datang lagi. Saya lantas memulainya. Hanya saja, kali ini saya menetapkan pilihan ke novel, bukan cerpen lagi. Dua novel pertama saja hasilnya jelek banget. Saya sendiri malu saat membacanya. Baru pada tulisan ketiga saya kemudian cukup berani untuk mengirimkannya ke editor, dan akhirnya terbit menjadi novel pertama saya. Judulnya: DONGENG TENTANG WAKTU.