CINTA ITU PART 39

Aku menegakkan punggung, bersedekap dan menatap Atharwa dengan sebelah kening terangkat. Jujur, dari semua kemungkinan yang pernah mampir di benakku yang berhubungan dengan Moira dan Atharwa, kata hamil sama sekali tidak ada di dalamnya. Jadi, ya, ini mengejutkan, walaupun ekspresiku mungkin tidak bisa mencerminkan perasaan kaget itu dengan  baik dan benar.

“Astaga!” Mata Atharwa melebar, dan dia mencondongkan tubuh ke arahku. “Tentu saja bukan aku, Kar. Aku  sudah sama kamu. Aku nggak mungkin melakukan sesuatu yang bikin kamu punya alasan untuk memutuskan hubungan kita.”

Bertemu perempuan lain di belakang dan di depan mataku sudah bisa jadi alasan kuat untuk memutuskan hubungan.

“Kamu percaya aku kan, Kara?”

Apa yang harus kupercayai kalau aku sebenarnya tidak tahu apa-apa? Aku mendengar nama Moira hanya dari celutukan Pretty, Remmy, dan Jingga. Juga dari Atharwa sekali saat aku ke rumahnya. Tapi dia tidak mengikuti keceplosannya itu dengan penjelasan  yang cukup saat aku menanyakannya.

“Kar, kamu ngomong dong. Aku jadi bingung mau bilang apa kalau kamu hanya diam begini. Kamu bisa marah karena aku meninggalkan kamu begitu saja beberapa hari lalu. Bilang apa saja, asal kamu nggak diam kayak gini.”

Aku mendesah. “Aku mau bilang apa kalau aku sebenarnya nggak tahu siapa itu Moi dan apa hubungan dia sama kamu?” Aku akhirnya bicara juga.

Atharwa mengusap tengkuk. Punggungnya sekarang tegak. Terlihat jelas sekali kalau ini bukan percakapan yang nyaman untuknya. Kalau sudah tahu bakalan tidak nyaman, kenapa juga ngotot harus bicara sekarang? Atharwa bisa saja menyetujui permintaanku untuk bicara nanti, jadi dia bisa menyiapkan alasan yang lebih bagus. Kalau perlu, dikonsep dulu sekalian, biar tinggal dibacakan saja di depanku, seperti membaca teks proklamasi saat upacara.

“Moira itu….” Atharwa memberi jeda sejenak. Aku membiarkannya, sama sekali tidak berniat menyela. “Kami dulu pernah sama-sama.”

Mau bilang mantan saja harus pakai satu kalimat panjang seperti itu. Aku terus diam. Atharwa sudah minta waktu untuk memberikan penjelasan, jadi aku juga tidak mau memotong. Aku sudah memberikan panggung yang dia pinta dariku.

“Tapi kami sudah lama berpisah. Jauh sebelum aku pindah ke sini. Sebelum kita bertemu lagi.” Atharwa melanjutkan, kali ini lebih cepat. “Kami sama sekali nggak punya hubungan lagi.”

Tidak punya hubungan kok masih selalu terlihat bersama? Yang tertangkap oleh mataku saja sudah dua kali. Yang tidak kelihatan bisa saja lebih banyak. Logikanya begitu, kan? Seperti fenomena gunung es.

“Dua minggu lalu, Moi tiba-tiba menghubungi aku dan minta bertemu. Karena aku bilang nggak bisa, dia menyusul ke sini dan menemuiku lewat Agra. Aku lantas ikut dia keluar karena merasa apa yang mau dia sampaikan itu penting.” Atharwa kembali mencondongkan tubuh ke arahku. “Aku nggak bilang sama kamu karena Moi nggak ada hubungannya dengan kita. Dia hanya bagian dari masa lalu yang nggak ingin aku bawa ke hadapan kamu. Aku nggak mau kamu berpikir macam-macam, karena kamu tipe orang yang lebih suka menyimpan sendiri segala sesuatu dalam hati. Hubungan kita masih baru, Kar. Aku sedang berusaha membuat kamu lebih nyaman dan terbuka sama aku. Menceritakan seseorang dari masa lalu aku, yang sama sekali nggak ada relevansinya dengan kita bukan ide bagus.”

Aku tetap tak menyela saat Atharwa mengambil waktu untuk menarik napas.

“Moi bilang dia hamil,” Atharwa melanjutkan. “Dengan orang lain, tentu saja,” dia buru-buru menambahkan, meskipun dia sudah mengatakannya tadi. “Masalahnya, pacarnya menolak bertanggung jawab karena mereka memang sudah sepakat itu bukan hubungan yang serius. Dan Moi juga nggak mau aborsi. Dia mau mempertahankan kehamilannya. Hanya saja, dia publik figur. Kehamilan di luar nikah sangat nggak bagus untuk reputasi dia dan keluarganya. Jadi dia minta tolong sama aku untuk….”

“Menikahi dia?” kali ini aku memotong. Penjelasan Atharwa terlalu panjang lebar sehingga berkesan bertele-tele. Entah mengapa hari ini dia terdengar begitu cerewet. Biasanya dia memang lebih banyak bicara daripada aku, tetapi tidak juga mirip repetan petasan terbakar seperti sekarang.

Atharwa menggeleng. “Bukan kayak gitu. Moi juga tahu nggak mungkin minta hal seperti itu sama aku.”

“Jadi apa?”

“Hanya status. Mama Moi punya rencana putus asa yang minta aku ikut terlibat. Saking putus asanya, dia yakin banget kalau aku beneran  nggak akan menolak membantu Moi keluar dari masalahnya. Dia bahkan sudah mau menghubungi wartawan gosip untuk bilang kalau aku dan Moi sudah balikan lagi. Moi nggak enak sama aku, jadi kemaren waktu aku ikut dia, dan kita ketemu di bawah itu, kami mau ketemu mamanya untuk membatalkan rencana gila itu. Moi bilang, kalau aku ikut bertemu mamanya dan menolak langsung, mamanya pasti nggak akan memaksa untuk melibatkan aku.” Atharwa berdeham. “Orangtua Moi sama-sama publik figur juga. Ayahnya pimpinan dewan yang setiap hari masuk media massa. Mamanya pengusaha, juga aktivis perempuan. Jadi kehamilan di luar nikah  Moi pasti jadi pukulan berat untuk reputasi keluarganya. Dan entah mengapa, dari beberapa mantan Moi, mamanya menganggap aku yang paling cocok untuk dimintai tolong sebagai tameng.”

Aku tahu. Karena di mata semua orang yang memandang, status sosial Atharwa dan si Moi-Moi itu sama. Keluarga mereka punya standar hidup di atas kebanyakan orang. Aku hanya memikirkan itu, tetapi tidak mengutarakannya.

“Kar, aku berencana menyelesaikan masalah itu secepat mungkin tanpa kamu perlu tahu. Karena kalau sampai beritanya tercium wartawan gosip, habis aku. Masalahnya akan jadi besar, dan aku harus berhadapan dengan banyak orang. Aku lebih suka menyelesaikan hal ini dengan bertemu mama Moi daripada harus menjelaskan gosip itu kepada keluargaku, Mas Genta, dan yang terutama, kamu. Kemarahan Mas Genta karena salah paham masih bisa kuatasi, tapi yang sulit itu adalah berhadapan dengan sikap diam kamu yang kayak gini.”

Aku terus menekuri kukuku di atas pangkuan.

“Tapi harapanku menyelesaikan masalah Moi diam-diam ternyata nggak berjalan seperti yang aku kira karena kamu malah melihat aku pergi bersama Moi. Dan seperti yang kubilang, menjelaskan hal ini jadi lebih sulit karena kamu nggak mau kasih aku kesempatan untuk ketemu kamu dari kemarin-kemarin.” Atharwa berpindah ke sampingku, mungkin karena tidak mendapat perhatiannya. Dia meraih tanganku. “Kar, aku tahu aku terkesan mengabaikan kamu kemarin, tetapi aku sama sekali nggak bermaksud kayak gitu. Kar, kamu dengar aku, kan?”

Kali ini aku mengangkat kepala untuk menatap Atharwa. Dia terlihat tulus dan bersungguh-sungguh. Hanya saja, aku tidak punya pengalaman seperti ini. Jujur, aku sekarang meragukan kemampuanku menilai seseorang setelah menyadari bahwa aku salah membaca sikap Pretty kepadaku.

Aku kehilangan Pretty karena menganggapnya benar-benar jahat, padahal dia hanya ingin aku menganggapnya ada dan berharga, sedangkan yang kulakukan adalah membantu dia melebarkan  jarak  di antara kami.

“Kar, aku sungguh ingin hubungan kita berhasil. Kalau aku nggak serius, aku nggak akan masuk dalam keluarga kamu dan mencoba dekat dengan mereka. Aku tahu gimana berharganya kamu untuk mereka, dan aku nggak mungkin mendekati kamu kalau hanya sekadar iseng. Dalam hati, kamu pasti tahu kalau aku nggak sejahat itu.”

Dalam hati, aku sedang bingung sekarang.

“Kar, masalah dengan Moi sudah selesai. Aku tegas menolak ide menjadi tameng untuk Moi. Aku nggak sebaik yang mereka pikir. Aku laki-laki dewasa yang egois. Jelas nggak akan mengorbankan diri dan reputasi untuk menolong orang lain dengan kasus seperti itu. Apalagi aku sekarang sudah punya kamu. Aku nggak mungkin memilih menolong Moi dengan risiko harus kehilangan kamu. Sekarang saja hubungan kita sudah jadi kayak gini, padahal kamu hanya sekali melihatku bersama Moi. Memang salahku, karena kemarin itu aku memilih ikut dia daripada kamu. Aku….”

“Dua kali,” potongku. “Aku lihat kalian pergi bersama dua kali.”

Atharwa terdiam, dia tampak berpikir. “Jadi waktu Moi datang ke kantor Agra, dan kami keluaar bersama itu kamu lihat?” Ekspresinya sedikit berubah kesal. “Kok kamu nggak bilang? Harusnya kamu tanya, kan? Bukannya itu yang biasanya perempuan lakukan kalau melihat pacarnya jalan sama orang lain?”

Aku melengos. Ada banyak kalimat yang ada dalam kepalaku yang bertabrakan ingin keluar melalui mulut, tetapi aku sama sekali tidak bisa mengaturnya runut. Butuh banyak usaha ketika akhirnya bisa mengeluarkan kalimat, “Aku pernah bertanya soal Moi waktu kita di apartemen kamu, tapi kamu sengaja nggak menjawab. Jadi kurasa Moi bukan hal yang ingin kamu ceritakan sama aku. Itulah kenapa aku nggak nanya.”

Atharwa mengusap punggung tanganku. “Iya, waktu itu aku sengaja nggak menjawab karena merasa dia nggak penting untuk kita bahas. Dia bukan siapa-siapa untuk hubungan kita, Kar. Aku sama sekali nggak menduga dia akan datang lagi dan malah bikin kamu jadi salah paham kayak gini.

Aku baru membuka mulut hendak menjawab saat ponselku berdering. Aku buru-buru menarik tanganku dari genggaman Atharwa. Nama Pak Budi muncul di layar.

“Bisa nggak usah diangkat dulu?” Atharwa ikut mengintip layar ponselku. “Pasti nggak terlalu penting.”

Pak Budi selalu menghubungiku untuk urusan penting. Dia tahu pasti aku bukan orang yang menyenangkan untuk dihubungi kalau hanya buat diajak bercanda. “Aku angkat dulu. Dia bosku.”

Atharwa menarik napas panjang. “Harusnya pas masuk itu aku gantiin Pak Budi jadi manajer kamu, bukannya di marketing, biar gangguan kayak gini nggak terjadi. Aku sebenarnya sempat memikirkan kemunngkinan itu sih, tapi jadinya akan konyol, karena basic ilmu aku marketing.”

Aku mendelik melihatnya, dan segera mengangkat telepon untuk mendengarkan perintah Pak Budi.

“Pak Budi butuh data.” Aku berdiri tergesa setelah menutup telepon.

“Nggak mesti sekarang kan, Kar? Kita belum selesai bicara.”

“Pak Budi mintanya sekarang. Ini sudah jam kerja.”

Atharwa mengeluarkan ponsel dari saku. “Agra akan ngomel kalau tahu aku melakukan ini, karena katanya aku akan menghambat produktivitas kerja pegawai untuk kepentingan pribadi. Tapi nggak ada jalan lain.”

Aku segera menarik ponsel yang dipegang Atharwa. Aku tahu dia akan menghubungi Pak Budi. Kisah cintaku tidak bisa dijadikan alasan untuk menolak mengerjakan apa yang diperintahkan Pak Budi. Aku dibayar untuk membantu dia, bukan untuk menghabiskan waktu kerja dengan Atharwa. “Jangan bicara sama Pak Budi!”

Atharwa berusaha mengambil ponselnya dari tanganku, tetapi aku tidak akan membiarkan dia menghubungi Pak Budi, jadi aku berbalik menuju pintu keluar, sambil memegang erat ponsel itu di depan dada.

“Ya sudah, ponselnya kamu pegang saja terus.” Atharwa tiba-tiba sudah menyusul dan memelukku dari belakang. “Biar aku punya alasan untuk peluk kamu kayak gini.”

Ya ampun, ini tempat umum. Atharwa tidak boleh memeluk orang seenaknya seperti ini! Ponsel yang ada dalam genggamanku langsung meluncur dan membentur lantai dengan keras. Aku benar-benar benci menjadi orang yang kikuk seperti ini!